Archive for the ‘Umum’ Category

“UGM Masa depan: transformasi dan digital” – usulan terbuka untuk Rektor Terpilih

Sunday, May 22nd, 2022

Pada era digital transformasi, disrupsi bisnis dan juga industri 4.0 terjadi perubahan pola dan strategi sebuah organisasi agar bisa menangkap peluang masa depan, bermain cantik dengan resiko, adaptif dan cepat dalam mengantisipasi perubahan dan leading di bisnisnya. Terlihat saat ini baik organisasi bisnis (perusahaan) di berbagai industri, organisasi sosial, pendidikan terutama di luar negeri menempatkan Teknologi sebagai “main business process” dan sekaligus “enabler” bagi strategi organisasi. Salah satu langkah pentingnya adalah menempatkan seorang Chief Level di bidang Techologi di jajaran pucuk pimpinan. Di perusahaan ada Chief of Technology Officer (CTO), Direktur Teknologi , dan juga sejenisnya.

Organisasi seperti kampus menurut saya strategi saat ini mempertimbangkan salah satu pucuk pimpinan di level Wakil Rektor untuk bidang ini. Beberapa alasan krusialnya sebagai berikut:

  1. Struktur pucuk pimpinan universitas saat ini mengikuti pola lama dimana menampatkan wakil rektor pada bidang yang lazim ada saja, terkesan meneruskan tradisi. Hal ini di mata industri menunjukkan tidak responsifnya sebuah lembaga organisasi terhadap zamannya. Kemudian bisanya urusan teknologi akan dimanage oleh seorang direktur lembaga di universitas. Saya membayangkan ada posisi Wakil Rektor bidang Teknologi dan Informasi, bisa ditambahkan nomenklatur lainnya. Hal ini ditargetkan sebagai langkah strategis transformasi universitas yang Menjulang Tinggi dan Mengakar Kuat dengan transformasi digital yang lebih struktural dan kuat. Posisi Wakil Rektor ini akan menjadi “supir” arah transformasi digital universitas di masa depan dan mengantisipasi situasi tidak terduga (belajar dari situasi pandemi).
  2. Teknologi dan Informasi dijadikan integrator semua sumber daya baik proses bisnis, sistem informasi, data dan informasi serta infrastruktur pendukungnya lebih komprehensif. Pola ini ditujukan untuk menciptakan lingkungan teknologi yang terbuka, data-driven policy, analytic perspectives, sekaligus menghilangkan duplikasi data dan pekerjaan yang berulang yang selama ini terjadi meski dengan jargon sistem terintegrasi.
  3. Akan lebih mudah menciptakan model organisasi dengan proses bisnis yang jauh lebih efisien, simpel dan satu sama lain bisa diselesaikan di satu meja layanan. Jendela-jendela layanan satu kampus bisa disatukan lintas Fakultas, lintas lembaga dan direktorat dalam jendela digital superappsnya kampus.
  4. Inffrastruktur teknologi yang besar tapi tersebar di semua Fakultas bisa dikordinasi agar bisa saling berbagi sumber daya dan saling dipinjamkan untuk processing. Cara ini memunculkan konsep shared services didalam lembaga sehingga yang dimobilisasi adalah prosesnya bukan orangnya. Akan menghemat banyak anggaran, disisi lain kebutuhan pengembangan teknologi pendukung dengan lompatan kecanggihan meski mahal masih bisa dicapai.
  5. Mengelola dan mengkordinasikan sumber daya kelembagaan, tenaga dosen bidang TIK, dan tenaga kependidikan juga akan lebih mudah dijalankan sehingga setiap kebutuhan pengembangan teknologi internal kampus bisa dicukupi dengan sumber daya sendiri, bahkan jika bagus bisa menjadi services untuk dunia luar yang menjadi revenue generator bagi kampus.
  6. Menciptakan model pelayanan kampus berbasis ” as services”, bukan lagi layanan di banyak pintu dan meja. Satu sama lain kelompok shared services akan bisa digunakan lintas Fakultas dan lintas Departemen.
  7. Jika diperlukan me-manage sumber daya kolaborator pengemban teknologi dari komunitas, alumni, startup dan perusahaan partner lebih optimal dan mendukung keuntungan bagi universitas
  8. Transformasi dipercepat dengan melibatkan dosen-dosen muda dan tenaga kependidikan muda berkapasitas tinggi untuk menduduki posisi strategis terutama pada transformasi ini, kampus membutuhkan kecepatan bergerak dan endurance tidak kenal lelah untuk bisa mengejar kebutuhan stakeholder dan bersaing dengan universitas lain terutama universitas luar negeri yang mulai meramaikan dunia pendidikan Indonesia. Menjadikan universitas kapal besar tapi tenaga “kano dan arung jeram” yang dimotori anak-anak muda.

Secara khusus hal ini juga untuk mendorong kampus bisa lebih memprioritasikan teknologi dan layanan yang dikembangkan sendiri untuk menciptakan Kemandirian dan Kedaulatan Teknologi dan Informasi di Indonesia dengan dimulai dari kampus sendiri.

Seorang Wakil Rektor akan menjadi policy design and makersnya, bisa dibantu seorang Direktur Unit untuk menjalankan dalam bentuk strategi teknis dan kordinatifnya.

Semoga ide terbuka ini bisa bermanfaat, sudah tidak sabar dan gemes, menjadikan kampus ini menjadi pioner transformasi digital universitas terdepan di negeri ini dengan pendekatan kamandirian dan kedaulatan teknologi dan informasi dengan sumber daya sendiri.

“Long Goxxx Effect” akhirnya terjadi …”

Friday, January 7th, 2022

Pandemi COVID-19 membuat kita familiar dengan istilah Long Covid Effect atau semacam sesuatu yang kita rasakan setelah terpapar virus COVID-19. Sebagai salah satu pemintas, saya pun merasakannya dan tetap berusaha semangat dan memulihkan stamina ke posisi terbaiknya.

Tetapi hari ini saya merasakan efek yang jauh berdampak menurut saya. Saya menyebutnya “Long Goxxx Effect”. Screenshoot diatas adalah potongan email yang dikirimkan ke pengguna layanan TIK kampus yang memiliki data di drive cloud suatu provider dengan kapasitas yang besar. Tiba-tiba (meski sebenarnya sudah ada rumor dan ramai di twitter, tapi sayangnya tidak official informasi yang berseliweran) kita mendapati email yang memberikan ultimatum (peringatan) untuk segera memindah simpanan data dan file kita dari sekian ratus Giga menjadi maksimal 5 Giga.

Saya teringat beberapa tahun lalu ketika duduk di baris akhir rapat membahas rencana migrasi layanan email dan lainnya ke penawaran sebuah provider besar yang memudahkan banyak hal. Meski pada rapat tersebut saya hanya salah satu dari 2 orang yang memberikan opsi berbeda mencoba memberikan pandangan untuk tetap independen, membangun layanan berkualitas dengan bertahap berbasis kritikan layanan pengguna, tetap pilihan terbaik menurut forum tersebut adalah migrasi.

Bagaimanapun keputusan telah diambil dan berjalan bertahun kemudian membuat saya dan kita makin mengandalkan penyimpanan dan manajemen data dari penelitian dan administrasi serta kolaborasi di kapasitas penyimpanan tersebut. Bayangkan betapa besar knowledge yang kita “setor” ke media penyimpanan tersebut selama ini. Tidak terasa saya memiliki lebih dari 100Gb data disana.

Hari ini kita terkejutnya bukan karena besaran kapasitas yang ada dan harus kita sesuaikan, tetapi ini menunjukkan filosofi teknologi mendasar yang menunjukkan kita tanpa kemandirian, tidak punya daya tawar, dan tidak bisa berbuat apa-apa dengan situasi yang di”wajibkan” oleh provider layanan tersebut. Mungkin ini cerminan betapa kita benar-benar tidak berdaulatan dengan teknologi kita sendiri.

Piliha satu-satunya adalah merencanakan migrasi dan menyelematka data-data yang semuanya saya anggap penting dan menempatkannya ke fasilitas penyimpanan independen di Lab kami. Seperti dejavu, kembali ke masa lalu, kita rangkai kembali asa kemandirian teknologi, yang sudah “tekor” bertahun-tahun kita rintis.

oto-kritiknya adalah kita masih belum punya perhatian besar di hal yang kelihatannya sepela, kita tertinggal jauh melihat universitas besar dunia yang bisa independen dengan layanan, dan karena berkembangnya dilirik oleh raksasa teknologi. Orientasi kita bukan penyedia layanan tapi pengguna layanan. Tidak ada tata kelola dan mitigasi yang antisipatif, semuanya seperti mencoba “survive by accident”, dan selebihnya diserahkan masing-masing pengguna. Dalam tata kelola TI ini levelnya fail menurut saya.

Kedepan bagaimana yang harus kita lakukan

  1. Mau tidak mau paradigma pengelolaan TI sebuah organisasi harus berubah dari pengguna menjadi penyedia / pembuat / inovator
  2. Kualitas layanan tidak instan tapi berkembang dengan masalah dan kritikan, Tata Kelola dan Mitigasi resiko jadi penting dan mendasar.
  3. Data driven menjadi penting, bukan service driven. Menyelamatkan dan mengamankan data lebih penting dan harus investasi serius. Data adalah pengetahuan dan masa depan apalagi sekapasitas institusi ini
  4. Organisasi harus punya daya tawar dan daya tarik yang jelas sehingga terjadi keseimbangan posisi, dan tidak ada perubahan sepihak yang membuat pihak lain tidak berkutik
  5. Sebagai pengguna saatnya memihak. Memihak dan memilih ke penyedia layanan nasional atau organisasi sendiri, dukung dengan setoran datanya dan masukan berkualitas, karena dengan hal itu layanan organisasi kita akan makin bagus dan meningkat. Bisa ke startup-startup dan perusahaan lokal yang memiliki kapasitas yang bisa kita kolaborasikan.
  6. Khusus case ini menunjukan kapasitas layanan kita untuk menyediakan environment penelitian, pengembangan, akademik, pengabdian dan kolaborasi saat nya dibuat secara mandiri baik data storage dan data centernya nantinya, saatnya TIDAK lagi bergantung pihak luar.

Buat rekan di organisai lain yang mengalami serupa maka ada baiknya memitigasi lebih awal dan menyiapkan plan lain dengan lebih baik, baik secara komunikasi dan informasi ke pengguna, tahapan mitigasi dan recovery permasalahan yang akan mungkin muncul didepan.

#SemangatInovasi, #SemangatKemandirianTeknologi

Asyiknya Kerja Kerelawanan

Tuesday, June 29th, 2021

Saya memulai aktivitas kerelawanan data melalui Respon COVID-19 Indonesia (covid19.gamabox.id) sejak 13 Maret 2020 yang lalu. Kegiatan ini saya inisiasi, bentuk, kemudian terus dijalankan hingga sekarang. Kegiatannya memfokuskan pada pengumpulan data dari sumber kredibel di lapangan dan sumber resmi pemerintah. Kemudian kita coba manage agar menjadi sekumpulan data yang bisa diolah multi point of view (dataset), serta disajikan dalam berbagai bentuk dashboard atau tampilan berbasis grafis dengan target mitigasi atau memperlihatkan kondisi saat ini yang bisa mengambarkan apa yang akan terjadi berikutnya. Kami membatasi tidak melakukan prediksi dan proyeksi agar lebih netral dan juga “jujur” apa adanya dari data yang ada.

Pada tulisan ini saya ingin fokus pada gerakan kerelawanan yang kami coba buat. Gerakan ini kita melibatkan rekan-rekan mahasiswa yang pada awalnya para mahasiswa yang memang mengambil matakuliah di berbagai Prodi yang saya ambil. Ada dari prodi ILKOM di DIKE FMIPA UGM, SPS UGM dan beberapa yang lain. Tetapi juga kemudian kita invite secara terbuka rekan lain baik mahasiswa, profesional dan umum yang memiliki kepedulian dan seirama pemikirannya. AKhirnya tidak kurang ada hampir 400 orang yang terlibat dalam gerakan ini. Pada awalnya kaget juga karena ternyata yang terlibat ada juga dari Belanda, Jerman, dan negara lain, meski orang Indonesia sendiri.

Pola diskusi, kerjasama dan kerja bersamanya pure kita lakukan dengan komunikasi whatsapp grup. tercatat ada grup whatsapp untuk kordinasi general, data scientist, data engineer, campaign, engineering. Diskusi yang terbentuk tidak ada model deadline tetapi lebih ke diskusi yang lebih menghasilkan kesepakatan dan kemudian ditindaklanjuti, hasilnya kita share dan kita distribusikan ke semua pihak, tidak lupa sosial media.

Ternyata pola kerja bareng ala relawan ini banyak mengubah mindset saya, meski saya sebagai dosen, mungkin dianggap punya ke khususan atau privileges tertentu, ketika kita bekerja sama di kerelawanan ini kita tanggalkan atribut dosen dan kampus besar ini. Saya dan anggota lainnya bertindak layaknya “pelayan” dan “melayani” untuk memudahkan pekerjaan lainnya. Seolah punya visi dan misi sama tanpa sering bertatap muka. Tidak ada kepentingan finansial, kepetingan reputasi atau lainnya. Bahkan kita tidak berfikir nanti jadi publikasi atau sejenisnya. Tidak ada klaim ini dibuat oleh kami di UGM saja, oleh Prodi tertentu sajam bahkan lainnya. Tidak juga yang menonjol hanya individu tertentu saja. Kadang satu sisi miris melihat bahkan di dalam kampus sendiri masih ada sentimen Prodi tertentu, Lab Riset saja, dan kelompok dosen saja, dan seterusnya untuk banyak hal dan urusan. Meski saya paham hal tsb adalah sesuatu yang sudah “membudaya” tapi sebenarnya jika tidak sesuai bisa kita ubah u kebaikan.

Simpel, yang kita ingin buat bisa berdampak dan digunakan. Salah satu yang membuat merindning ketika ada whatsapp tidak dikenal memberikan informasi kalau data kita akhirnya dipakai disatu daerah yang kritis. begitu kita share ke grup semua takjub dan merasakan impact kerja tidak tampakn ini begitu penting.

Mungkin impactnya bukan seperti inovasi mantap deteksi covid atau sejenisnya, bukan seperti mahakarya scientific, dan bukan pula produk yang terjual luas, dan terpublikasi luas. Tapi impact kecil seperti nyala lilin kecil di hutan belantara kalau istilah kami….

Saat ini adalah masa kerja bersama, kolaborasi, respect satu sama lain, inklusif dan berimpact baik.

Inilah contoh baik menurut kami, bahwa masih ada orang-orang yang berusaha untuk menjadi baik dan bergerak dengan jiwa relawan, tidak untuk terkenal atau didukung, tapi membuat legacy untuk generasi muda yang kami libatkan bersama.

5 Faktor yang potensial menjadi kendala Kampus Merdeka

Tuesday, June 29th, 2021

Hari-hari ini semua kampus, gegap gempita menyambut program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Pemerintah melalui Kementerian, dan melalui Dirjen DIKTI juga tidak kalah masif mensosialisasikan dan melakukan penetrasi program-program yang bisa mensukseskan kegiatan ini. Saya sangat mengapresiasi gerak dan langkah Kementerian ini dan cukup berbeda dengan masa-masa lalu yang terkesan dengan model administratif berkirim surat ke Universitas, dan surat ditembuskan ke semua pihak. Kali ini pendekatan masif dan public cukup banyak dilakukan. Transparansi program menjadi terbuka dan semua pihak bisa mengetahu informasi secara equal dan terbuka.

Semua program yang diusung era Menteri di periode manapun sejatinya baik, meski ada juga kebijakan yang aneh dan kontra produktif di masa tertentu. Sebagai sebuah program maka baik berbentuk kebijakan sampai dengan kegiatan implementasi selayaknya aliran hulu ke hilir maka faktor-faktor yang menyulut keberhasilan dan kegagalan pasti ada. Tinggal, bagaimana Kementerian mau melihat dan membenahi di sektor Hulu dan Hilir. Hulu tentu saja di Kementerian, perubahan kebijakan, arah implementasi, keberpihakan pada kemerdekaan belajar, dan selanjutnya tentu tidak diragukan. Tetapi Program di Hulu tanpa melihat kondisi riel di Hilir bisa menjadi bencana sebenarnya. Layaknya kita membendung aliran air dengan membangun waduk di Hulu, tapi tidak menghitung bagaimana aliran air ke hilir plus geografisnya, tentu bukannya bisa mensupplay air yang cukup, bisa jadi malah menyebabkan kekeringan atau bencana lainnya.

Sebagai orang yang di Hilir, dosen dan peneliti, layaknya petani yang mengarap lahan pertanian di pinggiran ladang sawah besar seluas Universitas di Bulaksumur ini, maka saya ingin menyumbangkan sudut pandang saya tentang kondisi di hilir saat ini. Tujuannya untuk memantik perubahan yang tentunya ke arah lebih baik, untuk sama-sama mau berubah dan melakukan perubahan mendasar dari pendekatan yang kita lakukan. Hilir yang saya maksud sangat basic, di lingkungan program studi yang mengurus perkuliahan, mahasiswa, kurikulum dan seputarnya. Juga di Lab Riset yang dibebankan banyak sekali Mandat Capaian Kinerja yang kadang takjub ide datangnya dari mana, dan kemudian kita ditagih hasilnya tanpa ada proses yang dikelola atau disupport.

Saya mengidentifikasi ada 5 potensi faktor yang akan menjadi kendala:

  1. Mindset. Ketika Kampus Merdeka dipadang oleh para petani di hilir hanya sebatas program dari Pak Menteri, Pak Dirjen, Pak Rektor, dan lainnya maka ini adalah kegagalan mendasarnya. Harus dipahami tidak semua petani punya pikiran yang sama. Minimal ada yang akan merespon kebijakan ini sebagai berikut “Yah…ini kan hanya program 5 tahunan”, atau “Program kementerian untuk menghabiskan anggaran”, “ini kan karena menterinya ….bla bla”, tapi juga ada lho yang seperti ini “Hmm..program seperti ini sudah lama dinantikan, bahkan diinisiasi sembunyi-sembunyi sebelumnya, karena klo kita buat biasanya di semprit prodi, departemen dan lainnya”. Nah jika situasinya seperti ini, maka saran saya, mau tidak mau pendekatan dan sosialisasi program ini tidak bisa ala kadarnya dengan mengencarkan social media, youtube etc. Tapi jadikan para petani di hilir ini agent of change untuk program ini, jadikan champion-championnya. Caranya, angkat dosen-dosen yang berani melakukan perubahan dan punya radikal pendidikan mindset dijadikan contoh-contoh terbaik, berikan pengakuan kerja-kerja keras yang telah mereka inisiasi.
  2. Kampus, Fakultas, Departemen, Prodi merasa dirinya seperti kecamanat, Kabupaten, Provinsi, dan kementerian yang punya otoritas tersendiri dan struktur birokrasi ketat. Sebenarnya saya ingin garis bawahi lebih ke Birokrasi yang tidak mau berubah. Kampus Merdeka bisa berhasil dan jalan kencang kalau terjadi kemerdekaan di level birokrasi. Saya paham untuk mengajar matakuliah dosen ada syaratnya, pembagian matakuliah masih kental berdasar prodi nya, bahkan berdasar bisanya dosen, naik pangkat jauh lebih susah ngumpulkan syarat daripada publikasi misalnya, semua kegiatan yang dikerjakan harus ada SKnya, dan seterusnya. intinya semuanya harus resmi dan resmi. kalau seperti ini, jika tidak saya lupa tentang teori organisasi, maka organisasi yang resmi dan resmi ini sebenarnya dis-trust dengan anak buahnya. Kemerdekaan birokrasi ini jadi penting, selama seperti labirin kusut, maka kampus merdeka akan jatuhnya jadi program seperti biasanya.
  3. Kampus Merdeka saya ibaratkan seperti Pak Menteri menyiapkan model kendaraan yang efisien, efektif, dan bisa melaju cepat. Mungkin seperti mobil formula E. Sayangnya driver-drivernya ini masih berfikiran mengemudikan mobil biasa atau mobil sejuta umat lah. Makanya tidak heran implementasi di perkuliahan sebenarnya ya sama saja, riset juga mengalir apa adanya, pengabdian ya kalau bisa dikerjakan, dan seterusnya. Orientasinya yang penting materi sampai, mahasiswa sudah besar-besar jadi dan bisa jadi pinter sendiri. Nah, ini adalah problem sangat besar. Dosen tidak punya kemampuan berkreasi bahasa saya bahkan u matakuliah yang diajarnya sendiri, penelitian hanya pakai penelitian mahasiswanya saja, pengabdian ya kalau diundang Pemda dan lainnya. Kembali jadi Agent of Change, maka dosen dan orang kampus harus jadi orang pertama yang mau berubah. Matakuliah ya di “masak” sendiri dengan pengalaman risetnya, penyelesaian masalah di luar, baca buku, dan lainnya. Dosen harus diubah menjadi Creator Content edukasi dan pembelajar, Creator Inovasi bukan penulis publikasi saja, Creator Solusi di kegiatan pengabdian maasyarakat. Dan jadikan impact sebagai alasan/bukti yang bersangkutan naik pangkat.
  4. Jadikan mahasiswa sebagai Obyek. Kampus Merdeka menurut pemikiran saya inginnya membebaskan mahasiswa sebagai individu yang bisa mengidentifikasi dan menentukan masa depannya dengan kemampuan teknis dan non teknis yang didapatkan selama di bangku perkuliahan. Cuma masalahnya, hal ini hanya akan terjadi di level kampus, kampus merdeka belum jadi pipeline utuh dr pendidikan dasar. jargaon problem based learning, case based learning, dan XXX based learning lainnya ya hanya pemanis. Saya mengusulkan sudah jadikan contex based learning, maksudnya mahasiswa diajak memahami kontek permasalahan, kontes keilmuan dan konteks peran dirinya dalam mengembangkan dirinya menjadi solusi di masyarakat (industri, pemerintah, dan komunitas).
  5. Kampus Merdeka harusnya dijadikan milestone bukan capaian. Pertanyaannya whats next setelah kampus merdeka? ini problem klasik dan terus menerus terjadi, kita hanya membuat program dalam ukuran master plan waktu. Kenapa tidak long-life learning output. Saya mengusulkan bukan kampus merdeka yang jadi tujuan tapi Self-drive learning. Menjadikan dan mencetak anak-anak didik kita itu punya kemampuan survival untuk belajar sendiri, mencari sumber belajar dan mengkreasi pengetahuan. Sudah lama menantikan Indonesia menjadi negara yang memproduksi pengetahuan lebih masif, bukan konten youtube saja.

Poin-poin diatas adalah buah pikir saya untuk mengkritisi lingkungan kami sendiri, dan sekaligus untuk memantik diri saya sendiri untuk selalu terdepan dengan perubahan sekecil apapun, dengan contoh nyata dan pengorbanan sendiri.

Bukan Merdeka Belajar Kampus Merdeka , Tapi Belajar & Kampus yang Memerdekakan

Friday, April 16th, 2021

1Hari1Kebaikan : https://www.youtube.com/watch?v=JDcVHfTdZNE

https://www.youtube.com/watch?v=JDcVHfTdZNE

Perbanyak share dan konten menginspirasi seperti ini…

Insight yang sangat dalam, kita sering berkutat dengan ego, keinginan berkompetisi, dan terlihat semuanya baik keren dan lebih dimata manusia lain. Sering kali kita kita mengejar sesuatu yang hebat. Tapi melihat video ini, semua itu tidak ada artinya dengan nilai sebuah perjuangan seperti ini.

Sebagai peneliti atau dosen kadang kita sudah sangat merasa hebat mendapat program penelitian dari industri besar, tapi sebenarnya penuh kekakangan dan pesanan dari arah sampai mengatur personel yang terlibat , penuh pesanan arah dan tujuan yang jauh dari ilmiah, dan orientasi pada pendanaan yang terlalu dominan sehingga banyak hal dilakukan (kadang untuk poin ini saya kemudian menanyakan “kebebasan akademik” yang mulai hilang dan mulai terjual secara komersial).

Sangat ambisius dan ingin terlihat hebat dan menjadi avatar didunia publikasi dengan bertengger dipuncak daftar publikasi terbanyak di situs-situs luar negeri. Terlihat keren ketika mahasiswa kita mengidolakan dan mengagumi ceramah kita di sesi online dan kelas. Kemudian menduduki jabatan menterang dikampus dan lainnya.

Tapi sebenarnya ini membuat terpenjara baik dari cara berfikir, dan pelaksanaan pendidikan. ini baru di level perguruan tinggi. Intropeksi diri saya adalah apakah memang begitu keinginan kita menjadi seorang pendidik. Seharusnya pendidik yang memiliki pegangan kuat nilai kemanusiaan diatas prestige tadi, dan memikirkan dampak sosial ke masyarakat kita yang masih sangat sangat membutuhkan sentuhan riel kita.

Dunia pendidikan kita memang harus berubah 180 derajat tidak lagi bicara kualitas semata tapi value dan impact baik ke masyarakat dengan sederhana dan lainnya jauh lebih dibutuhkan saat ini. Saatnya Belajar/Pendidikan bukan Merdeka tapi seharusnya MEMERDEKAKAN dari situasi/belenggu yang sulit seperti ini…

Saya kemudian menanyakan jargon Merdeka Belajar Kampus Merdeka, yang sebenarnya membuat kita “kembali” berfikir formality dan pudar terhadap isu sosial dan penyelesaiannya. Ayo kita sama dorong Belajar dan Kampus yang Memerdekakan….

#1 Academic freedom

Thursday, April 1st, 2021

Saya mencoba mengamati beberapa rekan dosen di kampus tercinta ini, kemudian di perguruan tinggi lain di Indonesia dan luar yang menurut saya sudah mencapai academic freedom yang luar biasa. Academic freedom yang bisa membebaskan mereka untuk berperan dan berkontribusi nyata melebihi bidang ilmunya dan bahkan diluar bidang ilmunya. Tidak lagi terjebak “pesanan” kampus, ataupun “pesanan” partnership yang pada akhirnya sebenarnya berselubung kegiatan riset dan pengembangan tapi tidak merdeka. Pada Tulisan ini meng-higlith 3 orang berbasis akademisi yang menonjol dalam kiprah nya. Esensi Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka tidak hanya sekedar pemanis kurikulum tapi terealisasi melebihi keilmuan dan beyond… semoga bisa mengikuti jejak-jejak mereka yang tidak tergoyahkan dengan terpaan.

  1. Muhammad Nur Rizal Ph.D dan Novi Poespita Candra, Ph.D. Pasangan dosen UGM lintar fakultas yang mendirikan Gerakan Sekolah Menyenangkan

2. Ayu Purwarianti, Ph.D. Dosen ITB yang mendirikan startup prosa.ai, salah satu pioner AI based technology berbasis bahasa di Indonesia

Lemahnya Kedaulatan Data di Indonesia

Monday, January 11th, 2021

Kondisi Realitas – sebagai study case

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 10 Desember 2020 meluncurkan akun belajar.id yang digunakan untuk Akun Pembelajaran dengan domain belajar.id. Akun elektronik tersebut dapat digunakan oleh peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan untuk mengakses layanan pembelajaran berbasis elektronik. Merujuk pada Surat Edaran Nomor 37 Tahun 2020 tentang Akun Akses Layanan Pembelajaran bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan, peluncuran Akun Pembelajaran juga bertujuan untuk menindaklanjuti Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 18 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Pemanfaatan Data Pokok Pendidikan untuk Akun Akses Layanan Pembelajaran. Dalam penjelasannya, Sesjen Kemendikbud menyampaikan, Akun Pembelajaran dibuat dalam bentuk Akun Google dengan domain @belajar.id.

Pertimbangan Akademik

Melihat implementasi akun pembelajaran yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia ini, kami melihat ada beberapa hal yang menjadi kritisisasi sebagai berikut:

  1. Kebijakan penggunaan akun pembelajaran pada belajar.id dengan menggunakan akun Google secara teknologi memang lazim dilakukan di beberapa praktik yang lain, tetapi dari sisi data, keamanan dan digital asset menjadi suatu langkah yang sangat beresiko.
  2. Kebutuhan suatu akun atau identitas tunggal dalam suatu sistem/aplikasi sangat penting dan krusial mengingat menjadi “entry poin” kedalam akses data dan semua asset yang ada didalam sistem tersebut.
  3. Penguasaan data dan sumber data saat ini menjadi salah satu perhatian utama perusahaan-perusahaan teknologi dunia untuk berbagai kepentingan.
  4. Kebijakan penggunaan akun Google ini tentu akan berpotensi kontradiksi dengan usulan Pasal Kedaulatan Data di RUU Perlindungan Data Pribadi  di mana Menkominfo ingin data yang ada di dalam negeri tak diolah dan dikuasai asing.
  5. Sistem, akun dan terlebih data yang dikelola Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, adalah asset digital negara dan data vital negara yang seharusnya dilindungi secara maksimal. Termasuk sistem, akun dan data lain yang berhubungan langsung dengan kemaslahatan masyarakat dan negara.
  6. Saat ini banyak individu (peneliti, dosen, pengajar dan masyakarat luas), komunitas, perusahaan rintinsan, organisasi di Indonesia yang sudah memulai untuk menginisiasi, mengembangkan platform yang dapat digunakan untuk menjaga kedaulatan data, yang sebenarnya dapat dimanfaatkan dan digunakan secara optimal.
  7. Penggunaan akun perusahaan global seperti Google ini sudah terjadi juga dibanyak sistem/aplikasi yang ada di masing-masing organisasi di Indonesia, seperti Perguruan Tinggi, Sekolah dan lambaga pemerintahan. Praktik ini akhirnya menjadi sesuai yang lazim dan dianggap benar karena hanya mempertimbangkan kemudahan akses, dan tawaran lain yang seolah “free” akan tetapi pada hakekatnya kita membayarnya dengan mengumpulkan data pada fasilitas yang perusahaan tersebut sediakan.

Dari pertimbangan diatas, beberapa hal kritis dan usulan terkait hal yang telah terjadi ini, sebagai berikut

  1. Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia, secara khusus perlu mereview kebjiakan ini, dikarenakan berpotensi melanggar aspek legal dan tidak mendukung terwujudnya kedaulatan data nasional.
  2. Mendorong Kementerian, Lembaga Negara, Perguruan Tinggi dan lainnya memperhatikan isu data ini dengan lebih mengutamakan keamanan , kedaulatan data, dan mendorong ecosystem nasional yang mendukung terciptanya kemandirian teknologi dan data secara komprehensif.
  3. Mengambil Kebijakan Pengelolaan Data Nasional yang tidak sekedar mengutamakan aspek kemudahan, tetapi secara komprehensif  memikirkan keamanan dan integritas data, dan kebutuhan kemandirian data di masa dating, dengan melibatkan sumber daya di dalam negeri yang sudah bergerak secara aktif.
  4. Kebjiakan Strategis Data Nasional adalah “senjata” masa depan untuk menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara terdepan di internasional, meningkatkan bargaining power, dan juga senjata untuk menjaga integitas nasional secara fisik dan digital.
  5. Integrasi Data Nasional bisa diwujudkan dengan memiliki dan mengelola data sekecil apapun di sumber daya dalam negeri, dan berorientasi untuk pemanfaatan data ini . Jika diperlukan kita bisa mengambil data dari sumber lain untuk melengkapi data analisis yang dilakukan di masa depan.

Melihat 360 derajat

Thursday, April 2nd, 2020

Data berupa angka, statistik dan lainnya dimaknai sebagai informasi yang ditampilkan setelah suatu pemrosesan untuk melaporkan kondisi event pada saat tersebut.

Tetapi pada analisis data khususnya big data, maka data tidak hanya dimaknai satu arah/dimensi, tetapi dapat dimaknai berbagai perspektif bahkan 360 derajat. Contoh kondisi cases COVID-19 di Indonesia per hari ini adalah 579 kasus. Maka akan ada yang memaknai angka yang sangat besar, pertumbuhannya cepat, masih kecil dibanding komunitas cases dunia, hanya sekian persen dari penduduk Indonesia, masih mencukupi kapasitas bed di rumah sakit dan seterusnya. Semuanya sah-sah saja…tetapi menyediakan perspektif 36o derajat ini menjadi penting untuk mengetahui pada sudut mana kita akan merespon setelah tahu makna/insight dari data tersebut. maka tanggungjawab seorang peneliti dan data scientist mencarikan sudut pandang derajat yang netral tapi mendukung proses kebaikan di masa depan.

Sama dengan menjalankan movement di covid19.gamabox.id , sudut pandang pertama mungkin menyambut baik, sisi lain wah ini ajang pamer, promosi, jualan, atau afiliasi politik tertentu. Tidak bisa disalahkan karena masing-masing punya mata sendiri-sendiri. Tentu unutk bisa menunjukkan sisi mana yang ideal dari inisiator atau timnya adalah lihatlah prosesnya, bagaimana ini digerakan, bagaimana ini dijalankan, dan motivasi yang tanpa pamrih menurut saya, kalau belum bisa coba rasakan dengan hati yang paling dalam saja…kalau ada bisikan bahwa ini kebaikan, yakinlah pada itu, tapi kalau dikepala berkecamuk hal-hal hasutan negatif, mungkin virus corona sebenarnya itu ya hal tsb.

Apapun itu, sebagai peneliti dan data scientist perjalanan untuk menunjukkan sudut pandang terbaik harus dan harus tetap dijalankan. Karena membawa setitik api di hutan belantara memang tidak akan tampak, tapi jika sudah menemukan api ungunnya, kami yakin itu bisa menjadi penanda jalan rekan-rekan lainnya. Mari berproses, jaga niat, dan usaha untuk kemanusiaan…

sekedar berbagi hal kecil, kita tidak pernah tahu hal kecil apa yang nanti bisa menjadikan alasan kita u diterima di surgaNya, demikian juga sebaliknya kita tidak pernah tahu hal terkecil apa yang bisa jadi pemberat kita nanti disana. Jadi selalu harus berbuat kebaikan sekecil apapun…

salam perjuangan dan terima kasih para Volunteer diData Ranger, Data Scientist, Apps Engineer, Mobile Designer, Communication, & Public Health untuk bergabung dalam inisiasi ini. 

Melawan/menahan COVID-19 dengan Data

Thursday, April 2nd, 2020

Saat ini kami di covid19.gamabox.id dan covid-19.widya-analytic.com sedang seperti berperang melawan dan menahan persebaran COVID-19 dengan kekuatan data dan analytic. Mungkin bukan melakukan serangan balasan untuk bisa mengalahkan COVID-19, tapi kami berperan di garda depan data menyediakan informasi dan analysis, bagi panglima-panglima perang menyusun strategi dan menganalisis kekuatan lawan.

Saat ini kami bergerak berbeda dengan movement sejenis dengan semangat saling melengkapi. Konsep kami menyediakan data analysis dengan sudut pandang 360 degree view of data. kami memvisualisasikan dengan berkejaran dengan data yang makin bertambah day-to-day, dari kumpulkan datanya, cleansing, tata dan display dengan analytic yang hati-hati.

Beberapa yang kami sudah keluarkan dalam 1 minggu+1 hari ini adalah
a. Angka : kami sediakan data dasar perkembangan cases secara demografi
b. Pertumbuhan : analisis pertumbuhan harian untuk melihat bagaiman COVID-19 berstrategi menyerang kita
c.Proyeksi : analisis perkembangan kasus kedepan
d.Analisa graph : informasi karakter persebaran yang makin random
e. eksponensial : menunjukan bahwa COVID-19 ini memiliki model pertumbuhan yang tidak linear dan cenderung naik secara drastis
f. persebaran : peta pola penyebaran timelapse sehingga bis diketahui pola pendudukan covid-19 di Indonesia
g. ODP-PDP Provinsi : kami sediakan dashboard untuk semua provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa untuk status ODP-PDP-positif biar memudahkan para pemerintah u fokus ke penanganan, biarkan kerja berat data ini kami bantu maksimal
h. Faskes : kerjasama dengan rekan di stopcov.id meyediakan informasi Faskes Indonesia yang saat ini terlibat dalam pertempuran covid-19
i. Kebutuhan faskes: kerjasana dengan rekan stopcov.id untuk menyediakan informasi kebutuhan amunisi faskes untuk penanganan di rumah sakit

selain itu kami juga mendukung dan berkolaborasi secara khusus membuat scanner lokasi di DIY u cek ODP-PDP-positif yang dapat diakses melalui https://covid19scanner.widya-analytic.com/

Semoga usaha kecil dan tidak mudah (karena penuh tantangan) bisa berjalan dengan lancar, tidak harus sukses dan viral, yang penting kolaborasi dan impactfull. cukup bagi kami….

Surat Terbuka untuk Dosen dan Peneliti, Rektor dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia

Thursday, April 2nd, 2020

Situasi sekarang saat ini membuat kita banyak beraktifivitas dirumah, mode on WFH dan melakukan kerja-kerja remote. Fokus kita masih menyelesaikan banyak pekerjaan kampus, lab yang dibawa ke rumah. Sebagai kepedulian kita untuk menahan laju pertumbuhan wabah ini disekitar kita, langkah ini merupakan langkah yang terbaik.

Saya mendapat cerita dari rekan peneliti di China, ketika terjadi masa seperti ini, mereka tidak sekedar WFH tapi benar-benar lockdown. Menariknya bukan dirumah kemudian hanya beraktivitas untuk memenuhi kewajiban kita sebagai pengajar semata, ternyata Pemerintah dan Universitas disana meminta para dosen dan peneliti bahkan mahasiswa tidak melakukan kuliah online atau malah membebani mahasiswa nya dengan penganti kuliah berupa tugas yang seabrek. Apa yang dilakukan….

Pada dosen, peneliti dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu diminta beraktivitas dirumah tetapi fokus bekerja melakukan penelitian untuk menahan laju wabah ini. Yang dibidang medical mereka ada yang stay at home atau ke lab untuk mencoba memutus rantai wabah ini di exprimen, yang ilmu sosial push untuk edukasi dan literasi ketahanan masyarakatnya, yang ilmu komputer/TI fokus menganalisis data dan lain-lainya.

kemudian pada titik tertentu mereka saling sharing hasil dan di publikasikan terbuka, tidak ada lagi itu motivasi u Q1,Q2 , scopus dan sejenisnya…dst, semata-mata hanya untuk kontribusi agar yang terjadi di negaranya segera selesai atau paling tidak membuat negaranya kuat.

Saya ajak dan mengusulkan, WFH dan SFH pada dosen dan mahasiswa kita ubah, tidak mengajar online, tapi kita create gerakan-gerakan masif untuk mengerjakan solusi-solusi kecil yang kita bisa, dan kontributif untuk menahan laju di sekitar kita.

Bukankah esensi kampus merdeka harusnya responsif dan kontributif untuk hal kejadian seperti ini.

Saya sudah memulainya sejak 1 minggu lalu, semua mahasiswa yang ikut kuliah saya akan saya cabut semua tugasnya, UTS akan berubah bentuk dari hanya mengeser model manual selama ini menjadi model kolaboratif bergabung dalam 1 gerakan besar untuk kontribusi keilmuan.

Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ini saatnya mengubah paradigma pendidikan yang mostly learning menjadi learn to action. Pak Rektor semua Universitas di Indonesia, ijinkan kami berkreasi dengan kemanusiaan, bukan hanya berwacana di grup semata. Para mahasiswa ini esensi kemanusian, KKN bentuk baru dan skripsi bentuk lain yang lebih nyata untuk digarap dan kontribusi. Saatnya bukan menjadi macan dikampus, tapi kita jadi vitamin di masyarakat. Ijinkan kami menilai capaian pembelajaran dengan jalan lain kontribusi bukan formalitas nilai biasa.

Ya, saya sudah memulai melalui www.covid19.gamabox.id

saya yakin rekan-rekan dosen dan peneliti diluar sana jika melakukan hal yang sama akan muncul bola salju besar untuk menahan laju wabah ini.

Salam perjuangan, dari kampus Perjuangan …!Data Ranger, Data Scientist, Apps Engineer, Mobile Designer, Communication, & Public Health untuk bergabung dalam inisiasi ini.