Archive for the ‘Word of Life’ Category
Irish
Friday, September 15th, 2017Pergilah dari Kampus!
Thursday, September 7th, 2017Catatan ini saya tujukan buat rekan-rekan yang sudah memasuki masa-masa pasca wisuda. Tulisan ini hanya sekedar catatan intropeksi ketika melihat gegap gempita kampus yang ternyata ada sisi melenakan.
Kehidupan kampus saya bilang “Nyaman”, kenapa karena didalamnya ada kebebasan untuk berpendapat, berekspresi, beraktualisasi, berinteraksi, dan menawarkan zona nyaman yang saya sebut sebagai “dunia sendiri”. Bagi siapa, tentu saja bagi rekan-rekan mahasiswa. Ilustrasinya, pernahkah rekan semua merasakan nyamannya di Lab main game memanfaatkan internet sebanyak-banyaknya, mungkin bisa tidur disana, dan lainnya. semua bisa dilakukan atas nama kuliah, praktikum dan mengerjakan tugas akhir.
Semakin nyamannya, mahasiswa yang sudah berwisuda pun masih tertaut dengan kehidupan kampus dengan alasan mencari lowongan di internet, memanfaatkan akses yang masih jalan dan kesempatan diskusi dengan mantan dosen pembimbing dan lainnya. Apakah ini salah, tentu saja tidak…sah-sah saja dilakukan. Bagaimanapun status mahasiswa di KTP memberikan privileges banyak dari akses ke perpustakaan, lab, sewa CD, sewa console game, dan sejenisnya.
Ada sebenarnya yang nyaman dengan seperti itu, tapi dijalani dengan produktif. Misalnya melanjutkan mengerjakan analisis atau eksperimen tambahan skripsi or thesisnya untuk jadi publikasi ilmiah. Ini adalah langkah nyaman produktif yang baik menurut saya. Dosen akan senang dan mahasiswa juga akan merasakan next level memasuki masa post-mahasiswa.
Meski demikian langkah produktif ini harus di rencanakan untuk menuju ke langkah misalnya studi lanjut ke S2 baik didalam maupun diluar negeri.
nah, ada langkah yang perlu diwaspadai dan berpontensi menjadi masalah jika terlalu nyaman di zona ini. Berlama-lama di kampus setelah wisuda akan minimal punya obstasles sebagai berikut:
- Menjadikan kampus sebagai tempat paling safe didunia, sehingga kita merasa perlu ke kampus u berlindung dari pertanyaan kapan kerja, gaji berapa, akan menikah dengan siapa, dan sejenisnya.
- Menjadikan kampus sebagai tempat semua ilmu, baik untuk menguasai negara api, negara air, angin dan tanah. faktanya kampus itu hanya sebatas wilayah saja, ilmu ada di lautan, daratan dan langit serta luar angkasa.
- Menjadikan kampus sebagai tenpat terbaik untuk selfie, instagram update dan terlihat keren dikampus di facebook. padahal begitu lepas dari mahasiswa ini kesempatan bagus untuk mencoba arung jeram di niagara, berenang di segitiga bermuda, main flying fox di tembok china, dan main need for speed riel di norwegia.
- menjadikan kampus sebagai tempat mencari koneksi gratis dan lancar, padahal sebenatr lagi akun mahasiswa yang di nonaktifkan, terpaksa pinjam koneksi orang lain, dan sebenarnya kita ke public space seperti JDV, mall , etc kita bisa dapat koneksi yang jauh lebih menjanjikan.
- menjadikan kampus sebagai cagar budaya, maksudnya kita takjub dengan bangunannnya, dosen didalamnya dan sejenisnya, padahal diluar sana ada cagar budaya yang lebih keren, dosen luar yang lebih terbuka dan orang-orang lain yang lebih dipercaya.
Inti dari tulisan ini sebenarnya mengejak rekan-rekan mahasiswa semua segera berjalanlah begitu wisuda. jangan nengok kembali ke kampus kecuali untuk ambil transkip dan ijazah legalisir, Bulatkan tekat dan tatap peluang kerja, studi lanjut dan bergabung dengan sesuatu ada diluar sana. begitua rekan sekalian masuk ke area di luar kampus, rekan semua akan benar-benar jadi ikan pesut yang dilautan (koreksi kalau ternyata ikan pesut ikan air tawar ya).
Belajar survive, berenang untuk dapat bersandar, menghidupi diri sendiri dan lebih penting merangkai masa depan yang lebih baik. sudah banyak contoh nyata, hasil-hasil yang lebih baik dari para dosennya… Jadi seperti filosofi laksanama cheng Ho, begitu sampai pantai segera bakar kapalnya, agar tidak ada pikiran untuk kembali… just move like a wave!
sumber gambar : https://hellosehat.com/hidup-sehat/latihan-fisik-sebelum-mendaki-gunung/
10 tips untuk mahasiswa baru UGM : Menjadi Mahasiswa se-Universitas
Monday, May 8th, 2017
Sebentar lagi gelombang mahasiswa baru di UGM akan berdatangan. selamat bagi yang telah diterima dan selamat berjuang yang masih mengusahakan melalui jalur lain (yang masih available), semoga mendapatkan pilihan terbaik dalam menapaki kehidupan kampus.
Menjadi mahasiswa UGM tentu kebanggaan tersendiri, apalagi diterima di Prodi yang ketat antara pendaftar dan yang diterima. Diterima sebagai mahasiswa di kampus yang kuat karakter dan memiliki jalur prospek yang challeng-ing di masa depan.
Terlepas dari hiruk pikuk mahasiswa baru ini, ada yang mengelitik setiap melihat mahasiswa di kampus ini. Ketika menjadi mahasiswa, maka rekan-rekan ini akan melebur dalam komunitas universitas multi fakultas, multi departemen, dan multi prodi. aktivitas-aktivitas di naungi di level universitas dengan berbagai UKM. Dan tak kalah ramai di level fakultas sampai prodi pun dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan berbasis himpunan mahasiswa.
Semakin mahasiswa tengelam dengan aktivitas kampus, maka semakin dia mendalami keilmuan yang diambil, dan tampaknya berbanding lurus dengan tingkat sosialisasi dan lingkungan interaksinya. Sering kali saya lihat, mereka semakin memiliki dunia yang menyempit, kalau tidak se-fakultas, se-departemen, se-prodi bahkan akhirnya hanya se-kos nya. Pada titik ini, hilanglah level kebersamaan dan kekuatan sebagai satu universitas. Teman-teman mahasiswa akhirnya di nina bobokan dengan mengaktifkan kegiatannya sendiri untuk unggul dengan yang lain. Bagus, ada kompetisi tapi melupakan satu hal…kolaborasi.
berbeda dengan dunia SMA/SMK, kampus menawarkan lingkungan tanpa batas untuk berinteraksi. sekat antar fakultas, departemen hanya sebatas akademik. tapi untuk pengembangan diri perlu dimanfaatkan sedemikian rupa agar bisa bermanfaat bagi masa depan mahasiswa nantinya.
saya ada sedikitnya 10 hal yang direkomendasikan bisa dilakukan mahasiswa baru untuk melebarkan interaksi sosialnya, dan membangun kolaborasi sejak hari-1 di UGM
- Hilangkan aspek kedaerahan, kesamaan asal sma, dan lainnya. Sadari status baru yang disandang saat ini, sama-sama GAMADA.
- Rekan disebelah anda ketika masa orientasi (apapun namanya) adalah partner, titik network, dan kolaborator anda minimal selama anda menempuh pendidikan di UGM. Catat no HP dan alamat (email or fisiknya), ingat namanya.
- Ingat lokasi Fakultas anda, tapi selalu ingat play-ground anda adalah dari Teknik ke Filsafat, dari Vokasi ke Kehutanan, dan seluas bulaksumur.
- Tidak usah melihat merk baju, sepatu, arloji disebelah anda, tapi lihat kita sama-sama memakai jaket almamter (hijau lumut…?)
- Kita terkenal sebagai kampus ndeso dan kerakyatan, bangga lah dengan hal itu, tapi cara berfikir kita dan terobosan kita penuh inovasi.
- Tidak perlu terlalu bangga alumni kita ada yang jadi Presiden sd macam-macam, banggalah dengan diri sendiri untuk menciptakan jalur masa depan ala anak muda saat ini.
- Nama Fakultas/Departemen boleh moncer, tapi ingat yang harum namanya adalah ketika kita bisa berkontribusi untuk kebaikan manusia dan bermanfaat.
- Ilmu tidak sebatas di Fakultas kita, jadikan masa kuliah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dari sumber keilmuan yang buanyak sekali di UGM.
- Saat ini kunci sukses adalah bekerjasama, jadikan masa menjadi mahasiswa ini ajang trial-eror untuk belajar dan menjalin kerjasama, siapa tahu teman anda makan angkringan saat ini adalah partner di perusahaan milik anda sendiri di masa depan
- Mahasiswa tidak sendiri dikampus, kami dosen, staf adalah teman dan partner kalian dalam menjalani kehidupan kampus. Mari jalin persaudaraan yang erat, boleh kok main PES, Dota, CS atau sejenisnya , jamming band dengan kami…
akhirnya selamat bergabung di UGM dan semoga wajah-wajah ceria penuh optimisme selalu ada di hari 1 sampai kelulusan di masa depan.
Good Song, Good Mood and Deep Lyrics
Wednesday, February 15th, 2017Mungkin mengungkapkan sesuatu tidak harus dengan tulisan panjang dan sejenisnya. musik yang kuat, lagu yang compact dan lirik yang dalam … terima kasih untuk semua orang yang “melukis” kehidupan …
Doctoral Story
Wednesday, February 8th, 2017view abstraksi dari proses penyelesaian studi Doctoral yang saya jalani sejak 2013. semoga bermanfaat untuk rekan-rekan seperjuangan, dan bisa lebih baik dari proses yang jalani. selalu semangat dan dalam doa!
[gview file=”http://mardhani.staff.ugm.ac.id/files/2017/02/Presentation-phd-share.pdf”]
apresiasi kecil tapi berdampak
Wednesday, December 21st, 2016Pada akhir semester pekerjaan seorang dosen yang cukup menantang (baca : memakan waktu, konsentrasi dan penuh kehati-hatian) adalah mengkoreksi lembar demi lembar jawaban dari mahasiswa yang mengikuti mata kuliah tertentu. Saya tidak akan membahas bagaimana pola mahasiswa saat ini menjawab soal dan segala bentuk keunikannya.
Semester ini ada satu lembar yang membuat saya memfokuskan perhatian, berhenti agak lama membaca berulang dan merawang jauh mengenai makna apresiasi. sebuah note kecil dari seorang mahasiswa dari negara lain (ya…bukan mahasiswa indonesia), mungkin berkeyakinan lain dengan mayoritas kita, berbudaya yang sangat lain dan penuh perbedaan berlawanan dari kita. Tapi saya tidak capai membacanya berulang …

sebuah kalimat ucapan tulus mengenai interaksi yang sering dijalani selama perkuliahan berlangsung. saya pun sebenarnya tidak sering berinteraksi personal, tapi saya coba selalu menempatkan diri untuk mencoba membantu dalam proses belajar dan lainnya. karena saya tahu bagaimana menjadi orang asing di suatu tempat. Mungkin bagi kita hanya kalimat biasa, tetapi bagi saya bermakna dalam. sebuah apresiasi kecil, tidak dengan skor impact factor tinggi, h-index selangit, jumlah publikasi yang luar biasa… tetapi inilah penghargaan nyata bukan karena prestasi tapi saling memahami dan mempercayai dalam sebuah proses.
Bertolakbelakang dengan hal ini, saya jarang sekali mendapatkan interaksi yang sedemikian baik dengan mahasiswa negara sendiri baik dalam kuliah maupun lainnya. hanya yang memang berinteraksi lama dan intents yang bisa melakukan hal-hal ini. Bahkan untuk memberikan apresiasi jerih payah penelitian pun dikalangan dosen, kadang yang keluar bukan apresiasi terlebih dahulu, tetapi langsung men-judge something goes wrong dan seterusnya. sungguh ternyata profesi, umur, kearifan belum tentu menjamin seseorang untuk bisa memberikan apresiasi yang positif untuk sekitarnya.
semoga coretan kecil ini mengungah kita untuk mendahulukan apresiasi dibanding mencacimaki. berikan sisi positif meski harus mengkoreksi. suasana positif jauh akan lebih menyamankan untuk memperbaiki dan berkesinambungan dalam jangka yang panjang. dimanapun dan di peran apapun yang kita jalani…
untuk mahasiswa yang menuliskan ini…terima kasih
Selembar Daun
Monday, December 19th, 2016
