Road to Gemastik
April 30th, 2018Internet of Emergency Things
December 6th, 2017Bagian terbaik menjadi ilmuwan
December 6th, 2017
Irish
September 15th, 2017Pergilah dari Kampus!
September 7th, 2017Catatan ini saya tujukan buat rekan-rekan yang sudah memasuki masa-masa pasca wisuda. Tulisan ini hanya sekedar catatan intropeksi ketika melihat gegap gempita kampus yang ternyata ada sisi melenakan.
Kehidupan kampus saya bilang “Nyaman”, kenapa karena didalamnya ada kebebasan untuk berpendapat, berekspresi, beraktualisasi, berinteraksi, dan menawarkan zona nyaman yang saya sebut sebagai “dunia sendiri”. Bagi siapa, tentu saja bagi rekan-rekan mahasiswa. Ilustrasinya, pernahkah rekan semua merasakan nyamannya di Lab main game memanfaatkan internet sebanyak-banyaknya, mungkin bisa tidur disana, dan lainnya. semua bisa dilakukan atas nama kuliah, praktikum dan mengerjakan tugas akhir.
Semakin nyamannya, mahasiswa yang sudah berwisuda pun masih tertaut dengan kehidupan kampus dengan alasan mencari lowongan di internet, memanfaatkan akses yang masih jalan dan kesempatan diskusi dengan mantan dosen pembimbing dan lainnya. Apakah ini salah, tentu saja tidak…sah-sah saja dilakukan. Bagaimanapun status mahasiswa di KTP memberikan privileges banyak dari akses ke perpustakaan, lab, sewa CD, sewa console game, dan sejenisnya.
Ada sebenarnya yang nyaman dengan seperti itu, tapi dijalani dengan produktif. Misalnya melanjutkan mengerjakan analisis atau eksperimen tambahan skripsi or thesisnya untuk jadi publikasi ilmiah. Ini adalah langkah nyaman produktif yang baik menurut saya. Dosen akan senang dan mahasiswa juga akan merasakan next level memasuki masa post-mahasiswa.
Meski demikian langkah produktif ini harus di rencanakan untuk menuju ke langkah misalnya studi lanjut ke S2 baik didalam maupun diluar negeri.
nah, ada langkah yang perlu diwaspadai dan berpontensi menjadi masalah jika terlalu nyaman di zona ini. Berlama-lama di kampus setelah wisuda akan minimal punya obstasles sebagai berikut:
- Menjadikan kampus sebagai tempat paling safe didunia, sehingga kita merasa perlu ke kampus u berlindung dari pertanyaan kapan kerja, gaji berapa, akan menikah dengan siapa, dan sejenisnya.
- Menjadikan kampus sebagai tempat semua ilmu, baik untuk menguasai negara api, negara air, angin dan tanah. faktanya kampus itu hanya sebatas wilayah saja, ilmu ada di lautan, daratan dan langit serta luar angkasa.
- Menjadikan kampus sebagai tenpat terbaik untuk selfie, instagram update dan terlihat keren dikampus di facebook. padahal begitu lepas dari mahasiswa ini kesempatan bagus untuk mencoba arung jeram di niagara, berenang di segitiga bermuda, main flying fox di tembok china, dan main need for speed riel di norwegia.
- menjadikan kampus sebagai tempat mencari koneksi gratis dan lancar, padahal sebenatr lagi akun mahasiswa yang di nonaktifkan, terpaksa pinjam koneksi orang lain, dan sebenarnya kita ke public space seperti JDV, mall , etc kita bisa dapat koneksi yang jauh lebih menjanjikan.
- menjadikan kampus sebagai cagar budaya, maksudnya kita takjub dengan bangunannnya, dosen didalamnya dan sejenisnya, padahal diluar sana ada cagar budaya yang lebih keren, dosen luar yang lebih terbuka dan orang-orang lain yang lebih dipercaya.
Inti dari tulisan ini sebenarnya mengejak rekan-rekan mahasiswa semua segera berjalanlah begitu wisuda. jangan nengok kembali ke kampus kecuali untuk ambil transkip dan ijazah legalisir, Bulatkan tekat dan tatap peluang kerja, studi lanjut dan bergabung dengan sesuatu ada diluar sana. begitua rekan sekalian masuk ke area di luar kampus, rekan semua akan benar-benar jadi ikan pesut yang dilautan (koreksi kalau ternyata ikan pesut ikan air tawar ya).
Belajar survive, berenang untuk dapat bersandar, menghidupi diri sendiri dan lebih penting merangkai masa depan yang lebih baik. sudah banyak contoh nyata, hasil-hasil yang lebih baik dari para dosennya… Jadi seperti filosofi laksanama cheng Ho, begitu sampai pantai segera bakar kapalnya, agar tidak ada pikiran untuk kembali… just move like a wave!
sumber gambar : https://hellosehat.com/hidup-sehat/latihan-fisik-sebelum-mendaki-gunung/
Open Source untuk Kolaborasi dan Inovasi
September 2nd, 2017https://drive.google.com/open?id=0B_zZxm3XULwHdzBPYlQ5VWZPc3M
Trip ke China : Keynote di Big Data Education & Program
August 1st, 2017Membagi sedikit pengalaman ketika 3 hari terakhir ini mengikuti dan memenuhi undangan Guizhou Univ di Guiyang China untuk menjadi keynote di track Big Data Education Talent & program. Event ini satu rangkaian dnegan 10th China-ASEAN education cooperation week, yang mempertemukan negara-negara di ASEAN dan juga negara-negara observer dari Eropa. Beberapa pengalaman yang cukup berharga adalah
1. China ternyata tidak ribet dalam hal aplikasi visa, mengandalkan invitation letter semua syarat tiba-tiba sangat mudah, dan saya hanya membutuhkan 3 hari mengurus sendiri sampai visa selesai, hanya saja agak bolak balik jogja-surabaya. tapi saya yakin sebenarnya kalau kita urus sendiri jauh lebih efisien dan menambah pengalaman.
2. selama disana terasa benar, kita di serve baik dari penjemputan sampa i diantar Check inn pulang. semuanya tenaga volunteer yang didedikasikan u event ini. tema connference initernyata diangkat di level provinsi dan negara sehingga dukungan pemerintah nya terasa sangat serius.
3. Univ Guizhou sendiri merupakan univ tua di china dan memiliki ruang kampus yang seperti kota tersendiri, fasilitas lengkap (incl asrama) dan dilengkapi fasilitas conference sekelas JECC di Jakarta.
4. khusus u tema Big Data, China tampaknya menempatkannya menjadi priroitas baik pembangunan dan risetnya. saya sempat berdiskusi dengan dosen di UNiv tsb, mereka memiliki Big Data Academy yang merangkai semua fakultas untuk menghasilkan sesuatu bagi negaranya. mungin spt CoECS MIPA, yang bisa menjalan kanperan minimal di FMIPA
5. mereka sangat menghargai peneliti-peneliti muda, disiapkan forum, fasilitas dan program akselerasi agar menjadi pemimpin-pemimpin inovasi di masa depan ini terbukti dengan begitu banyak pembicara yang usianya tidak terpaut jauh dengan saya, bahkan yg bergelas Profesor dengan usia lebih muda juga ada. memang selain fokus pada riset, orientasi jenjang akademiknya digarap dengan serius.
6. saya tidak banyak menyoroti seberapa banyak dukungan dana dari pemerintah untuk inisiatif-inisiatif seperti ini di China, tapi melihat bentuk fisiknya tampaknya ada keseriusan dan konsistensi jangka panjang.
tulisan ini bukan untuk mengungulkan China, hanya sekedari men-share pengalaman, meski masih sangat sedikit, semoga dengan mulai membiasakan share-share seperti ini paling tidak menunaikan “amanah/panggilan hati” untuk mempertanggugjawabkan (melaporkan) aktvitas-aktivitas yang inovatif dan membawa kebaikan dan menjadi representasi didalam maupun diluar negeri.
Berikut adalah artikel yang dibuat oleh Humas UGM dan dipublikasikan di web UGM setelah menginterview saya via WA:
Big Data saat ini sedang banyak diperbincangan, baik dari sisi teknologi, implementasi maupun aplikasinya, tak terkecuali di Indonesia. Perkembangan cepat yang disertai dengan kebutuhan analisis mendalam terhadap data menjadikan Big Data tidak hanya dilihat dalam ranah teknis, namun juga dilihat dalam proses penciptaan keahlian dan kemampun mengatur, serta pengelolaan Big Data.
Dr. Mardhani Riasetiawan SE Ak, MT, staf pengajar dan peneliti di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika, FMIPA UGM, mengatakan hal itu saat menjadi keynote speaker 10th China-ASEAN Education Cooperation Week 2017. Mendapat kesempatan untuk berbicara pada 10th China-ASEAN Education Cooperation Week 2017 yang berlangsung 28 Juli-2 Agustus 2017 di Guiyang, China, Mardhani Riasetiawan mengupas Big Data education Talent and Program.
“Pada conference ini, saya mempresentasikan terobosan dan pendekatan proses learning dengan menggunakan blended collaborative learning untuk materi Big Data,” katanya.
Dalam acara ini, Mardhani mengenalkan framework atau struktur yang dinamai Bulaksumur Initiatives yang mengabungkan proses learning online, face to face dan co-working space dalam bentuk ideaspace. Implementasi ini dikembangkan di Laboratorium Sistem Komputer dan Jaringan, DIKE FMIPA UGM melalui GamaBox Incubation Program.
Mardhani juga menyampaikan proses implementasi pada beberapa kegiatan yang saat ini masih menunjukkan dalam proses berjalan. Salah satunya G-connect project, sebuah kegiatan pengabdian masyarakat tepat guna yang mengkolaborasikan sumber daya mahasiswa tingkat awal dalam proses pembelajaran big data dengan studi kasus menyebarkan konektivitas untuk daerah rawan bencana. Selain itu, disampaikan pula terkait Gamabox supercomputer, yaitu pendekatan ilmiah melalui kolabortif learning untuk menghasilkan super komputer pertama yang ada di UGM berbasis single board computer.
“Melalui conference ini, pendekatan unik dari UGM diperkenalkan di level global yang menunjukkan semakin mengakarnya UGM di lingkungan kampus dan masyarakat, serta menjulang tinggi di dunia internasional. UGM juga memperlihatkan peneliti mudanya yang memiliki potensi global, memimpin keilmuan yang terkini dan menjadi rujukan,” ujarnya. (Humas UGM/ Agung)
Big Data Cloud untuk Kedirgantaraan
May 23rd, 2017Big Data Cloud untuk Indonesia
May 23rd, 201710 tips untuk mahasiswa baru UGM : Menjadi Mahasiswa se-Universitas
May 8th, 2017
Sebentar lagi gelombang mahasiswa baru di UGM akan berdatangan. selamat bagi yang telah diterima dan selamat berjuang yang masih mengusahakan melalui jalur lain (yang masih available), semoga mendapatkan pilihan terbaik dalam menapaki kehidupan kampus.
Menjadi mahasiswa UGM tentu kebanggaan tersendiri, apalagi diterima di Prodi yang ketat antara pendaftar dan yang diterima. Diterima sebagai mahasiswa di kampus yang kuat karakter dan memiliki jalur prospek yang challeng-ing di masa depan.
Terlepas dari hiruk pikuk mahasiswa baru ini, ada yang mengelitik setiap melihat mahasiswa di kampus ini. Ketika menjadi mahasiswa, maka rekan-rekan ini akan melebur dalam komunitas universitas multi fakultas, multi departemen, dan multi prodi. aktivitas-aktivitas di naungi di level universitas dengan berbagai UKM. Dan tak kalah ramai di level fakultas sampai prodi pun dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan berbasis himpunan mahasiswa.
Semakin mahasiswa tengelam dengan aktivitas kampus, maka semakin dia mendalami keilmuan yang diambil, dan tampaknya berbanding lurus dengan tingkat sosialisasi dan lingkungan interaksinya. Sering kali saya lihat, mereka semakin memiliki dunia yang menyempit, kalau tidak se-fakultas, se-departemen, se-prodi bahkan akhirnya hanya se-kos nya. Pada titik ini, hilanglah level kebersamaan dan kekuatan sebagai satu universitas. Teman-teman mahasiswa akhirnya di nina bobokan dengan mengaktifkan kegiatannya sendiri untuk unggul dengan yang lain. Bagus, ada kompetisi tapi melupakan satu hal…kolaborasi.
berbeda dengan dunia SMA/SMK, kampus menawarkan lingkungan tanpa batas untuk berinteraksi. sekat antar fakultas, departemen hanya sebatas akademik. tapi untuk pengembangan diri perlu dimanfaatkan sedemikian rupa agar bisa bermanfaat bagi masa depan mahasiswa nantinya.
saya ada sedikitnya 10 hal yang direkomendasikan bisa dilakukan mahasiswa baru untuk melebarkan interaksi sosialnya, dan membangun kolaborasi sejak hari-1 di UGM
- Hilangkan aspek kedaerahan, kesamaan asal sma, dan lainnya. Sadari status baru yang disandang saat ini, sama-sama GAMADA.
- Rekan disebelah anda ketika masa orientasi (apapun namanya) adalah partner, titik network, dan kolaborator anda minimal selama anda menempuh pendidikan di UGM. Catat no HP dan alamat (email or fisiknya), ingat namanya.
- Ingat lokasi Fakultas anda, tapi selalu ingat play-ground anda adalah dari Teknik ke Filsafat, dari Vokasi ke Kehutanan, dan seluas bulaksumur.
- Tidak usah melihat merk baju, sepatu, arloji disebelah anda, tapi lihat kita sama-sama memakai jaket almamter (hijau lumut…?)
- Kita terkenal sebagai kampus ndeso dan kerakyatan, bangga lah dengan hal itu, tapi cara berfikir kita dan terobosan kita penuh inovasi.
- Tidak perlu terlalu bangga alumni kita ada yang jadi Presiden sd macam-macam, banggalah dengan diri sendiri untuk menciptakan jalur masa depan ala anak muda saat ini.
- Nama Fakultas/Departemen boleh moncer, tapi ingat yang harum namanya adalah ketika kita bisa berkontribusi untuk kebaikan manusia dan bermanfaat.
- Ilmu tidak sebatas di Fakultas kita, jadikan masa kuliah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dari sumber keilmuan yang buanyak sekali di UGM.
- Saat ini kunci sukses adalah bekerjasama, jadikan masa menjadi mahasiswa ini ajang trial-eror untuk belajar dan menjalin kerjasama, siapa tahu teman anda makan angkringan saat ini adalah partner di perusahaan milik anda sendiri di masa depan
- Mahasiswa tidak sendiri dikampus, kami dosen, staf adalah teman dan partner kalian dalam menjalani kehidupan kampus. Mari jalin persaudaraan yang erat, boleh kok main PES, Dota, CS atau sejenisnya , jamming band dengan kami…
akhirnya selamat bergabung di UGM dan semoga wajah-wajah ceria penuh optimisme selalu ada di hari 1 sampai kelulusan di masa depan.


